Mengasihi TUHAN

Kehidupan tanpa kasih dan cinta maka kehidupan itu akan gersang dan tanpa tujuan, karena kasih akan melahirkan pengharapan dan pengharapan akan melahirkan semangat, semangat untuk tetap maju dan tetap bertahan. Ketika Yakub pertama sekali melihat Rahel anak perempuan Laban, Yakub jatuh hati terhadap Rahel, dan mengasihinya, hal tersebut membuat Yakub bersemangat bekerja membantu usaha Laban, dan bahkan ketika Laban menipu Yakub dengan menggantikan Rahel dengan Lea pada malam pertama pernikahan, Yakub tetap bersemangat untuk menunggu tujuh tahun berikutnya hanya untuk mendapatkan Rahel. Kisah ini adalah salah satu kisah yang sangat romantis dalam cerita alkitab.

Sebagian orang mengatakan bahwa cinta dan kasih manusia sudah tidak murni bahkan cenderung hanya perpusat pada kepuasan diri sendiri, sehingga melahirkan banyak definisi-definisi yang hanya disesuaikan dengan perasaan si pembuat definisi itu sendiri.

Merujuk pada Alkitab, yang tertulis dalam Injil Yohanes 3 : 16, bahwa TUHAN sangat mencintai manusia dan rela mati agar siapa yang percaya akan diselamatkan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”, pertanyaannya, “mengapa Allah sangat mencintai manusia?”, dan pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah “apakah manusia dapat mencintai Allah?”

Pada umumnya, ketika seorang lelaki atau perempuan dihianati pasangannya, maka mereka akan kecewa dan memutuskan untuk berpisah, bahkan tanpa menunggu waktu lama dapat berpindah kepasangan yang baru, apakah itu namanya cinta atau kasih?. Menurut kamus bahasa Indonesia, kasih ialah perasaan sayang (cinta, suka kepada), sedangkan definisi cinta ialah suka, sayang, kasih, berharap, keinginan, dan rindu. Jika kita cinta dan kasih kepada seseorang, mungkinkah kita menghianatinya? Dan mungkin kah kita berpaling kepada yang lain?.

Mengapa Allah Mengasihi Manusia?

Dalam enam hari penciptaan, manusia diciptakan pada hari yang ke enam, Tuhan mengatakan bahwa semuanya ciptaan-Nya baik (Torah Kejadian 1:31), tidak berhenti sampai disana Allah juga memberkati mereka. Dalam Torah Kejadian 1:28 Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Manusia diciptakan dengan sangat sempurna, dan bahkan meniru pola dan sifat Allah itu sendiri “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Torah Kejadian 1:27). Ketika manusia mula-mula diciptakan, Allah sudah menyediakan segala sesuatunya, baik untuk makanan dan juga tempat tinggal,  “Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu” (Torah Kejadian 1:29). Manusia mula-mula sungguh mendapatkan perhatian khusus dari Sang Pencipta, apakah namanya itu kalau bukan “Kasih”?

Allah adalah Kasih dan Kasih yang sesungguhnya adalah Allah. Karena sifat KeAllahan itu adalah Kasih, sehingga Dia tidak dapat melupakan manusia yang telah diciptakan-Nya itu, karena Allah menciptakan manusia didalam Kasih-Nya yang tidak terbatas.

Dalam Kitab Torah Ulangan 5:10 berbunyi “Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” Mengartikan bahwa TUHAN selalu menjaga umat manusia yang sangat Dia Cintai dan sangat Dia Sayangi dan bahkan disamakan dengan biji mata TUHAN. Kitab Zabur Mazmur 19:8 Raja Daud berdoa kepada TUHAN dan memohon “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”.

Allah mencintai manusia tidak setengah-setengah, Allah mencintai kita dengan sepenuh hati dan sepenuh akal budi, itu dapat dibuktikan dalam Kitab Zakaria 38:8 “Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu — sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya”

Betapa berharganya kita manusia dimata TUHAN, dan pusat perhatian-Nya adalah mengusahakan keselamatan kita manusia “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”. (Injil Yohanes  3:16)

Allah mengasihi manusia, karena Allah itu adalah Kasih dan memang Dia Kasih adanya.

Apakah Manusia Dapat Mengasihi Allah

Seiring dosa menguasai manusia, rasa kasih itu juga sudah memudar dan semakin pudar dari jaman-kejaman dan bahkan kasih telah kehilangan makna. Umumnya manusia menganggap kasih itu adalah kebebasan yang tidak ada batas dan bahkan kasih itu adalah kata hati, dimana jika hati kita mengingini, itu merupakan sinyal atau tanda kasih. Apakah demikian? Firman TUHAN mengatakan “hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilahsesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Injil Matius 40:19). Dengan kata lain, Injil ini mengatakan bahwa, jika kita mau mengasihi orang lain, kita harus terlebih dahulu mengasihi diri kita sendiri, karena kita tidak mungkin mampu mengasihi orang lain jika kita tidak mampu mengasihi diri kita sendiri.

Berarti, sebelum mengaku mengasihi orang lain, kita harus yakin bahwa kita telah mencintai diri kita, dan mengasihi diri kita. Bagai mana caranya kita dapat mencintai dan mengasihi diri kita?

TUHAN menciptakan manusia itu untuk hidup kekal (abadi), tetapi Ketika nenek moyang kita, yaitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa maka manusia kehilangan keabadian, dan harus mengalami kematian akibat dosa, “tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” (Torah Kejadian 3:3). 

Kebutuhan manusia adalah keselamatan dari kematian dan mendapatkan kehidupan kekal kembali seperti ciptaan mula-mula, sehingga ketika kita mengatakan bahwa kita mengasih diri kita, maka kita harus mendapatkan keselamatan itu, karena dengan mendapatkan keselamatan dan hidup kekal adalah merupakan bukti bahwa kita telah mengasihi dan mencintai diri kita sendiri.

Mengasihi Allah, berarti mengasihi diri sendiri dan dengan otomatis akan mengasihi sesama kita manusia (orang lain), karena dengan mengasihi Allah, kita akan selamat dan ketika kita selamat otomatis kita berkeinginan untuk menyelamatkan orang lain. Inilah yang disebut rentetan kasih, rentetan kasih tanpa syarat dan kasih yang bersinergi tanpa batas.

Apakah manusia dapat mengasihi Allah? Isa Almasih atau Yesus Kristus mengatakan “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Injil Yohanes 14:15)

Tidak ada pilihan lain, jika kita mau selamat, kita harus mengasihi Tuhan. Kita mengasihi Tuhan, demi diri kita sendiri, demi keselamatan kita, demi masa depan kita. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengasihi Tuhan?

Allah mengingatkan Adam dan Hawa  “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Torah Kejadian 2:16-17), ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu, maka pada saat yang sama manusia sudah harus binasa, tidak ada lagi kesempatan keselamatan, persyaratan yang sangat ringan tersebut telah dilanggar Adam dan Hawa, hanya Tuhan yang mampu memberikan solusi keselamatan yaitu dengan pengorbanan.

Allah melalui Yesus Kristus telah mengorbankan diriNya mati dikayu salib hanya untuk menebus manusia, agar manusia memperoleh kesempatan kedua untuk hidup kekal, kasih yang luar biasa, kasih yang tidak dapat diartikan dan hanya Tuhan lah yang dapat menjelaskan pengorbanan tersebut. Tuhan mau agar manusia menerima keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan. Dengan demikian, apakah hati kita tidak tergerak untuk mengasihi dan mencintai Tuhan? Hanya kuasa iblis yang dapat menjauhkan kita dari kasih Tuhan, hanya kuasa iblis juga yang dapat menjauhkan kasih kita dari Tuhan.

Apakah kita dapat mengasihi Allah? Yesus Kristus berkata “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (injil Yohanes 15:4). Langkah pertama kita harus tinggal didalam Yesus Kristus, artinya, kita harus menuruti semua apa yang perintahkan Yesus Kristus kepada kita. Yesus Kristus melanjutkan perkataanNya “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (Injil Yohanes 15:6). Jika kita mau mengasihi Tuhan, maka kita harus tinggal dan menuruti semua perintah Tuhan, dengan demikian kita akan disanggupkan untuk mengasihi Tuhan. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.(Injil Yohahes 15:14)

Apakah kita mau hidup didalam Tuhan?

Bukti Mencitai Allah

Suatu hal dianggap sahih, jika ada bukti, kalau demikian apakah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan? “jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.(Injil Yohanes 14:15). Kita harus menuruti segala  perintah Tuhan, karena Tuhan berjanji “ tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.” (Torah Keluaran 20:6), ayat ini menegaskan bahwa hanya orang-orang yang berpegang pada perintahNya yang mendapatkan kasihNya.

Pada jaman ini, mayoritas manusia berkata, bahwa dengan kematian Yesus Kristus, kita tidak perlu menuruti perintahNya.  Apakah itu benar?. Apakah dengan meninggalnya orang yang kita sayangi, misalnya orang tua kita otomatis kita melupakan semua nasehat-nasehat yang telah diamanahkan selama hidupnya? Ini merupakan pola pikir yang sangat menyesatkan.

Pada jaman ini, mayoritas berkata bahwa 10 Hukum Tuhan tidak perlu lagi dituruti oleh karena kematian Yesus Kristus di kayu salib ! Apakah itu benar? “Tetapi Ia tidak pernah berubah, siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga” (Kitab Ayub 23:13) “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.” (Torah Kejadian 17:7) Tuhan tidak pernah berubah dan tidak akan berubah, karena Dia bukan manusia yang dapat salah dan mengoreksi perkataan-Nya.

Bapa Abraham sangat dikasihi Tuhan oleh karena kesetiaan yang ditunjukkan oleh Abraham “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” (Torah Kejadian 26:5) bahkan Tuhan Yesus Kristus menegaskan “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Injil Matius 5:18), bahkan bumi dan langit lenyap, tetapi Hukum  Taurat tidak dapat lenyap.

Pada satu ketika, para ahli taurat berusaha mencobai Yesus Kristus dengan bertanya “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Injil Matius 22:36-40)

Hukum taurat atau 10 Hukum Allah ada dua bagian yang menjadi satu kesatuan, yaitu hukum ke satu sampai ke empat adalah perintah untuk mengasihi Tuhan Allah, dan hukum ke lima sampai ke 10 merupakan perintah untuk mengasihi sesama manusia.

10 Hukum Allah (Torah Keluaran 20:1-17)

1. (Torah Keluaran 20:3) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

2. (Torah Keluaran 20:4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (Torah Keluaran 20:5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (Torah Keluaran 20:6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

3. (Torah Keluaran 20:7) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

4. (Torah Keluaran 20:8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (Torah Keluaran 20:9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (Torah Keluaran 20:10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (Torah Keluaran 20:11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

5. (Torah Keluaran 20:12) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

6. (Torah Keluaran 20:13) Jangan membunuh.

7. (Torah Keluaran 20:14) Jangan berzinah.

8. (Torah Keluaran 20:15) Jangan mencuri.

9. (Torah Keluaran 20:16) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10. (Torah Keluaran 20:17) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Menuruti perintah Tuhan merupakan bukti kasih kita kepada-Nya, dan bukti syukur dan terima kasih oleh karena penebusan-Nya, sehingga kita dapat selamat dan beroleh hidup kekal di surga.

Apakah cukup percaya saja kepada Yesus Kristus? “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.”(Kitab Yakobus 2:19) percaya itu harus, tetapi kalau hanya percaya saja tanpa menuruti perintah-perintah Tuhan, maka itu tidak ada gunanya.

Iman atau percaya bersamaan dengan perbuatan harus sejalan “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” (Kitab Yakobus 2:20-23)

Pada Kitab terakhir, yaitu Kitab Wayu kembali ditegaskan oleh Rasul Yohanes pada jaman akhir, sebelum kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yaitu untuk menjemput umat-Nya akan terjadi masa dimana umat-umat Tuhan dianiaya, dan pada saat itu kita semua diberikan jaminan sebagai berikut “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” (Kitab Wahyu 12:17) “Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus.” (Kitab Wahyu 14:12)

Bukti mencintai Tuhan yaitu dengan menuruti semua perintah-perintah-Nya atau menuruti semua Hukum-hukum-Nya.

Pada akhirnya pada saat Tuhan Yesus Kristus datang untuk menjemput umat-umat-Nya (kita) oleh karena kita didapati setia dalam kasih kepada Tuhan, maka tuhan telah berjanji “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Injil Yohanes 14:1-3)

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published.