Alkitab Menjawab Tentang Hukum TUHAN (Part 2)

8. BUKANKAH KRISTUS TELAH MEMERDEKAKAN KITA?

Gal. 5:1

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

BETUL. Tapi dimerdekakan dari apa? BUKAN DARI HUKUM!  Dimerdekakan dari:

1. Iblis dan maut “… supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.” (Ibr. 2:14-15)

2. dari kewajiban membayar dosa kita sendiri  “…upah dosa ialah maut…” (Rom 6:23)

Apakah artinya setelah kematian Kristus, pelanggaran atas hukum Tuhan [= dosa] sudah tidak ada hukumannya lagi bagi kita?

TIDAK! Tidak ada ayat yang berkata begitu!

Justru karena Tuhan itu tidak pernah berubah, dan peraturanNya juga tidak pernah berubah, maka setiap pelanggaran hukumNya adalah dosa. Setiap dosa harus dibayar dengan kematian.  Jadi,

·         Hukum Tuhan itu tetap ada.

·         Hukuman atas pelanggaran hukum Tuhan [= dosa] pun tetap ada.

·         Kewajiban membayar hukuman itu juga tetap ada.

Tetapi, Tuhan mahamurah. Dia masih bersedia mengampuni kita lagi bila kita minta ampun padanya dan bertobat dari dosa kita. Inilah yang maksud “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.” [Gal 5:1] Semua sudah dibayar oleh Kristus, baik dosa kita yang lalu, mapun dosa kita yang akan datang. Semuanya sudah ditanggung oleh Kristus dengan kematianNya satu kali di kayu salib. Kematian Kristus di kayu salib itu mampu menebus dosa semua manusia mulai dari Adam hingga manusia yang terakhir nanti.  Kita tidak usah bayar apa-apa. Kita merdeka dari kewajiban membayar dosa kita.

Tetapi Paulus tidak berhenti sampai di sini. Paulus melanjutkan:

“Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Paulus di sini jelas memperingatkan agar “jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

Dengan kata lain, Paulus bilang “Jangan mau berbuat dosa lagi.” Berarti  berkaitan dengan “KEMAUAN” kita.  Jadi kita punya pilihan: Mau atau Tidak Mau. Paulus menghimbau agar kita “JANGAN MAU.”

Karena bagi yang mau [berbuat dosa lagi], kemerdekaannya hilang. Dia kembali berada di bawah kuk perhambaan. Kuk perhambaan apa? Kuk perhambaan dosa! Dan jangan lupa, upah dosa = Maut.

Jadi, setelah kita dimerdekakan oleh Kristus dari kewajiban membayar hukuman dosa kita yang lama, SELAMA KITA TIDAK MEMBUAT DOSA YANG BARU,  kita tetap merdeka. Tapi begitu kita melanggar hukum Tuhan lagi = berbuat dosa lagi, maka kita membuat hukuman baru lagi, dan kita kembali punya kewajiban membayar hukuman tersebut, kecuali kita bertobat dan minta ampun kepada Kristus, agar hukuman tersebut ditanggung oleh Kristus.

9. PENGAMPUNAN DOSA

Karena Tuhan mengetahui kelemahan iman kita dan kelemahan daging kita, maka Tuhan sudah tahu bahwa setelah kita dimerdekakan, kita tetap bisa berbuat dosa lagi. Karena itu dikatakan dalam:

1 Yoh. 1:9 

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Amin!

Tapi lagi-lagi fasilitas kasih karunia dari Tuhan sering disalahgunakan oleh banyak orang Kristen. Mentang-mentang kita tahu bahwa Tuhan mau mengampuni segala dosa kita, jadi kita menganggap ringan Hukum Tuhan, melanggar Hukum Tuhan tidak apa-apalah, toh nanti minta ampun, juga diampuni.  Paulus dengan tegas mengatakan dalam:

Rom. 6:1-2

“Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”

Rom. 6:15

Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”

Yang diterjemahkan “hukum Taurat” di sini tulisan aslinya adalah νόμος [nomos – nom’-os], jadi Paulus berbicara mengenai hukum-hukum yang ditulis Musa. Kita perlu cermat membaca tulisan Paulus. Paulus berkata, “kita tidak berada di bawah hukum Taurat,” itu benar karena Taurat Musa yang berurusan dengan pengampunan dosa itu sudah berakhir di salib, tetapi walaupun kita sudah tidak berada di bawah Taurat Musa, karena kita sekarang berada“di bawah kasih karunia” (Kristus yang membayarkan hukuman dosa kita), lalu apakah “kita akan berbuat dosa”? Paulus berkata:“Sekali-kali tidak!”

Rom. 3:31

Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkan-nya.”

Kata yang diterjemahkan “hukum Taurat” di ayat ini berasal dari kata νόμος [nomos – nom’-osjuga. Berarti Paulus sedang berbicara mengenai Taurat Musa bukan 10 Hukum karena di ayat sebelumnya dia berbicara mengenai sunat yang terdapat di Taurat Musa bukan di 10 HUKUM TUHAN. Namun, Paulus dengan tegas berkata “adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkan-nya.”   

Jelas Paulus tidak bisa membatalkan Taurat Musa. Yesus pun tidak membatalkannya, tetapi menggenapinya [Matius 5:17].  Tentu saja Paulus tidak bisa memakai kata “menggenapi” [fulfilled] karena yang bisa menggenapinya hanyalah Yesus yang kematianNya dilambangkan oleh semua upacara di dalam Taurat Musa itu. Maka Paulus memakai kata “meneguhkan” [established], tetapi maksudnya sama, yaitu bahwa Taurat Musa itu bukan dihapus [dibuang/dibatalkan], melainkan diteguhkan karena sudah digenapi oleh Yesus.

Keterangan Paulus ini cocok dengan ajaran Yesus dalam Matius pasal 5 mulai ayat 17 sampai habis hingga pasal 6.  Taurat Musa mengatakan membunuh adalah dosa, Yesus meneguhkannya dengan berkata, membenci di dalam hati saja sudah sama dengan dosa membunuh. Taurat Musa mengatakan tertangkap berzinah adalah dosa, Yesus meneguhkannya dengan berkata, baru ingin saja sudah berarti berzinah di dalam hati. Jadi jelas Yesus TIDAK MENGHAPUS Taurat itu, tapi memperkenalkan pemahaman yang sebenarnya, yang justru membuat hukum itu lebih berat daripada yang dimengerti oleh manusia sebelumnya. Mengapa banyak orang Kristen tidak menerima ini

Tuhan ingin kita bertobat dari semua dosa kita. Bertobat artinya BERHENTI  berbuat dosa.

Ibr. 10:26-27  

“Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. [artinya Yesus, domba Allah yg dikorbankan untuk kita, tidak mau lagi menanggung dosa kita] Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.”

Setelah kita tahu kebenaran, tetapi kita masih SENGAJA tetap melanggar hukum Tuhan (berbuat dosa = melanggar hukum Tuhan), maka pengorbanan Yesus sebagai domba Allah untuk dosa manusia sudah tidak berlaku lagi bagi kita. Bahkan apa yang tersedia bagi kita? “kematian yang mengerikan” dan “api yang dahsyat yang akan menghanguskan.”

Jadi, kita tidak bisa lagi mengklaim Kasih Karunia Tuhan untuk menyelamatkan kita setelah kita tahu tentang kebenaran tetapi sengaja melanggar kebenaran itu.

Kata kuncinya terletak pada kata “sengaja”. Manusia bisa khilaf. Khilaf artinya tidak dengan niat dan tidak dengan sengaja merencanakan untuk melanggar. Kejatuhan kita karena kekhilafan, bisa kita mintakan ampun kepada Tuhan.  Tuhan mengetahui kelemahan kita. Tuhan mahamurah.

1 Yoh. 5:17

“Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak mendatangkan maut.”

Dosa yang tidak mendatangkan maut adalah dosa yang sudah ditinggalkan, sudah ditobati, sudah diampuni Tuhan. Tetapi tidak semua dosa akan diampuni. Bilamana kita sudah mengeraskan hati untuk sengaja tidak mau mengikuti hukum Tuhan dengan alasan apa pun, maka Rom 2:5-8 sudah memberikan gambaran apa yang akan diberikan Tuhan kepada kita.

Rom. 2:5-8  

“Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.”

Tuhan tidak selamanya mau digampangkan. Kalau kita sudah tahu kebenaran, tapi kita sengaja melanggarnya demi kenyamanan diri sendiri, maka dosa kita itu tidak diampuni Tuhan.  Bahkan lebih celaka lagi jika kita sudah melanggar hukum Tuhan, tapi tidak merasa itu dosa, maka kita tidak merasa perlu minta ampun kepada Tuhan. Dosa itu pun tidak mendapatkan pengampunan Tuhan.

Tuhan juga tidak bisa kita tipu. Tuhan tahu isi hati kita, apakah kita jatuh dalam dosa karena kita sedang lemah atau kita memang mau tetap bercokol dalam dosa karena kita tidak perduli pada hukumNya. 

Adam sengaja melanggar hukum Tuhan dengan makan buah yang terlarang. Dia sudah tahu itu buah terlarang, dia tahu konsekuensinya kalau dia makan (mati) walaupun mungkin dia tidak tahu “mati” itu bagaimana karena waktu itu dia belum pernah melihat kematian. Tetapi dengan niat dan kesengajaan dia tetap BERANI melanggar hukum itu.  Mungkin dia berpikir, “masa sih Tuhan benar-benar akan mematikannya?” Cuma makan buah, wah, kan sebenarnya tidak serius, kan tidak mencelakakan siapa-siapa. Tidakkah alasan itu familier? Kita juga beranggapan, masa iya sih kita dihukum karena tidak bersabat pada hari ketujuh? Semua orang Kristen juga sama tidak bersabat pada hari ketujuh lo. Masa Tuhan akan menghukum kami semua? Jangan lupa, kalau Tuhan tidak sayang menghukum Adam, apakah Tuhan akan sayang menghukum kita?  Bagi Tuhan, pelanggaran adalah pelanggaran, walaupun di mata kita kecil, di mata Tuhan SEMUA PELANGGARAN kepada hukumNya DENGAN SENGAJA adalah tindakan MAKAR! Tidak mengakui kedaulatan Tuhan yang membuat hukum itu. Gara-gara hanya makan buah, Adam kehilangan hidup kekalnya.

Contoh yang lain, air bah di zaman Nuh. Tuhan tidak sayang membinasakan seluruh dunia dan menyisakan hanya delapan orang keluarga Nuh. Jadi jangan mengira karena Tuhan itu kasih, kasihNya bisa dimanipulasi. Jika manusia tidak mengakui autoritas Tuhan sebagai Khalik Pencipta alam semesta, dan berani melanggar HukumNya walaupun sudah tahu itu dosa, maka Tuhan tidak akan memaksa mereka menjadi umatNya, Tuhan akan melepaskan mereka untuk selama-lamanya.

10. APA YANG DIMINTA TUHAN DARI UMAT YANG SUDAH   DITEBUSNYA?

1 Yoh. 2:3-5

“Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.”

Yesus sendiri berjanji untuk menyanggupkan/membuat kita mampu untuk menurut semua perintahNya, yaitu dengan bantuan Roh Kudus.

Yoh. 14:15-17

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran…”

1 Yoh. 3:6-9

Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia. Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.”

1 Yoh. 5:3

“Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.”

Mat. 7:21

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

11. HUKUM TUHAN YANG KITA LANGGAR

Sepanjang kehidupan kita, pasti banyak hukum Tuhan yang sudah kita langgar. Tapi ada satu hukum yang sudah dilanggar oleh orang Kristen secara bersama-sama, secara berjemaah istilah, yaitu hukum ke4 dari 10 PERINTAH TUHAN.

Kel. 20:8-11

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. “

Inilah yang ditulis oleh Tuhan sendiri. Hari yang harus diingat dan dipelihara kekudusannya adalah hari yang ketujuh! Bukan hari pertama (Minggu = Sunday = hari penyembahan kepada matahari). Setelah kita mengetahuinya, akankah kita masih berbondong-bondong melanggarnya?

Kepausan telah mengubah hukum Tuhan dengan begitu menyeluruh sehingga seluruh dunia ini mengikutinya. Mayoritas dunia Kristen mengikutinya. Bahkan dunia sekuler dan non-Kristen pun mengikutinya!  Hampir semua kantor, semua sekolah, semua usaha pada hari Sabtu (hari ketujuh) tetap buka menjalankan aktivitasnya, sehingga manusia yang mau bersabat pada hari ketujuh (Sabtu) menghadapi resiko tidak bisa sekolah, tidak bisa bekerja, dan menghadapi banyak kesulitan. Dunia ini memang sudah dikuasai Satan sehingga dia akan mempersulit semua yang mau mengikuti Tuhan. Tapi apa kata Tuhan kepada kita?

Mat. 10:38-39:

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”

Mat. 6:33

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Tuhan tahu bahwa mengikuti jalanNya akan membawa kita kepada pertentangan dengan dunia, terkadang bahkan dengan orang-orang terdekat kita sendiri.

Mat. 10:34-37

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”

12. APA KAITANNYA IMAN DENGAN PERBUATAN?  KASIH KARUNIA DENGAN PENURUTAN HUKUM?

Yak. 2:26

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.”

Jelas yang dikatakan oleh Yakobus. Jadi perbuatan kita setelah kita diselamatkan oleh Yesus haruslah merupakan manifestasi / bukti dari iman kita.

Paulus menjelaskannya lebih lengkap di dalam kitab Roma:

Rom. 5:1

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Rom. 5:9

Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”

Ini pasti dimengerti oleh semua orang Kristen, kita dibenarkan oleh darah Kristus karena iman kita kepadaNya, maka kita diselamatkan dari murka Allah.

Sekali lagi, kita tidak dibenarkan oleh perbuatan kita, tapi melulu 100% karena kasih karunia Allah yang telah menebus kita dari kewajiban membayar hukuman dosa.

Setelah menjelaskan doktrin “pembenaran oleh iman” ini, Paulus lalu menerangkan tentang dosa.

Rom. 6:14

“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat,  νόμος  [nomos – nom’-os] tetapi di bawah kasih karunia.

Paulus berbicara mengenai Taurat Musa lagi di sini. Jelas kita tidak berada di bawah Taurat Musa tetapi di bawah kasih karunia karena Taurat Musa sudah digenapi oleh Yesus di salib. Hukuman yang dijatuhkan oleh Taurat Musa sudah dibayar oleh Kristus di salib. Surat utang manusia sudah dibayar oleh Kristus.

Paulus berkata:

Rom. 7:7

“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!”

Di sini yang dibicarakan oleh Paulus jelas bukan Taurat Musa yang berkaitan dengan upacara kurban yang sudah berakhir di salib, melainkan  yang berkaitan dengan HUKUM-HUKUM TUHAN, karena di dalam kitab Taurat Musa, juga ada tertulis 10 PERINTAH TUHAN (Ulangan 5:1-22), dan inilah yang dibicarakan Paulus karena dia mengutip hukum yang ke-10:  “Jangan mengingini!” dari aslinya Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” [Kel 20:17].

“Oleh hukum Taurat aku mengenal dosa”, kata Paulus. Seandainya tidak ada Hukum Taurat, kita tidak tahu yang mana itu dosa. HUKUM TAURAT ITU TIDAK BISA MENYELAMATKAN. KASIH KARUNIA TUHAN YANG MENYELAMATKAN. Tetapi hukum Taurat itu yang menunjukkan dosa-dosa kita.

Hukum itu berfungsi sebagai rambu-rambu bagi kita, supaya kita tetap berjalan di jalan Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan, dan tidak melenceng ke kiri atau ke kanan.

Hukum itu menuntut/mendakwa/ menunjukkan kesalahan kita. Ibarat sebuah cermin yang hanya bisa menunjukkan adanya noda di wajah kita, tapi tidak bisa menghapus noda itu. Hanya sabun yang bisa menghapus noda di wajah kita, sabun itulah kasih karunia Tuhan.

Apakah karena ada sabun lalu cermin tidak dibutuhkan lagi? Tidak. Cermin tetap diperlukan agar kita selalu dapat berkaca untuk mengecek apakah wajah kita selalu bersih atau tiba-tiba muncul noda yang baru lagi. Tanpa cermin, kita tidak akan tahu jika ada lagi noda yang menempel di wajah kita.

Setelah ada kasih karuniaHukum Tuhan itu tetap berfungsi sebagai penunjuk dosa! Karena itu, Paulus lalu melanjutkan ajarannya:

Rom. 6:15  

Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”

Nah, ayat ini tidak mungkin disalahmengerti! Paulus sudah tahu, bahwa pasti bakal ada banyak orang Kristen yang berdalih, karena sudah diselamatkan oleh kasih karunia dan dibebaskan dari tuduhan hukum Taurat, selanjutnya sisa hidup mereka seluruhnya sudah di-cover oleh kasih karunia Tuhan, jadi perbuatan buruk apa pun yang mereka lakukan, sudah ditebus oleh Yesus, sehingga tidak jadi soal lagi.

Tapi apa kata Paulus?

Apa kita akan berbuat dosa terus karena kita tidak di bawah hukum Taurat? Jawaban yang diberikan Paulus, sangat tegas dan jelas: “Sekali-kali tidak!”

Sekadar mengingatkan apa itu definisi dosa:  Dosa adalah pelanggaran hukum Tuhan (1 Yoh. 3:4)

APA YANG TERJADI SETELAH KITA DIBENARKAN OLEH IMAN DAN DIBEBASKAN DARI DOSA?

Rom 6:18  

“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”

Jadi, Paulus dengan jelas mengatakan, kita itu hanya ganti majikan! Kalau dulu majikan kita itu “dosa” dan kita menjadi hamba atau budak dosa, maka setelah kita dibenarkan oleh iman, dan dimerdekakan dari dosa, kita BUKAN 100% BEBAS MERDEKA MENJADI TUAN KITA SENDIRI, tetapi kita ganti majikan, majikan kita sekarang adalah “kebenaran” dan kita menjadi hamba atau budak kebenaran!

Pasti kita semua mengerti apa arta kata “hamba.” Seorang hamba [slave] itu melakukan kehendak majikannya, bukan kehendaknya sendiri. Yang namanya menjadi “hamba” ya harus patuh kepada majikannya, bukan? Hamba kan tidak boleh protes apalagi berontak kepada majikannya! Jadi apa perintah majikannya, itulah yang harus dilakukannya.

Pada zaman dahulu, seorang hamba itu “dibeli” oleh majikannya dan menjadi “milik” majikannya 100%. Hidup-matinya bergantung seluruhnya kepada kemurahan hati majikannya. Majikannya boleh saja menghukum hambanya bahkan sampai membunuhnya sekali pun. Jika Paulus memakai kata “hamba” maka dia mau menekankan bahwa kita yang telah ditebus [dibeli] oleh darah Kristus ini, sudah menjadi milik Kristus, dan dengan demikian kita ini hamba Kristus. Karena Kristus itulah Kebenaran, maka berarti kita ini hamba Kebenaran. Kebenaran bukan menurut standar kita, melainkan menurut standar Tuhan.

Dari mana kita tahu apa yang benar di mata Tuhan? Ya dari Hukum yang diberikan Tuhan. Nah, putar-putar toh akhirnya kita kembali ke Hukum Tuhan, bukan?

Paulus lalu menyimpulkan:

Rom. 7:12

“hukum Taurat adalah kudus, dan Perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.”

Wherefore (1) the law is holy, and (2) the commandment holy, and just, and good [KJV]

Perhatikan di terjemahan bahasa Inggrisnya dari KJV (terjemahan Indonesianya kurang jelas). Di sini Paulus menyebutkan dua hal:

ü  the law  yang berasal dari kata νόμος   [nomos – nom’-os] = hukum tulisan Musa

ü  the commandment yang berasal dari kata ἐντολή [entolē – en-tol-ay’] = 10 Hukum Tuhan

Berarti tulisan Paulus ini sudah merangkum SEMUA HUKUM, baik yang ditulis oleh Musa, maupun yang ditulis oleh Tuhan sendiri (10 Perintah Allah)!

Paulus mengatakan bahwa semua Hukum dari Tuhan (baik yang ditulis Tuhan sendiri maupun yang ditulis oleh Musa atas bimbingan Tuhan) itu “kudus”, “benar”, “baik”. Sesuatu yang kudus, benar, dan baik, berarti bermanfaat bagi kita. Mengapa kita begitu getol mau menyingkirkannya?

Sekarang kita tiba pada bagian yang lebih mendalam, yang menjadi target dari semua tulisan Paulus ini.

Rom 7:22

“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.”

Rom 7:26

“Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.”

Rom 7:24

“Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

Rom 7:25

“Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Apakah Paulus berkata bahwa dia merasa tidak perlu melakukan Hukum Allah karena sebagai manusia itu tidak mungkin? Tidak! Alasan apa pun tidak berlaku untuk tidak melakukan hukum Allah!

Perhatikan, Paulus tidak berkata, “siapa yang melepaskan aku dari Hukum Allah”!!! Paulus berkata Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”

Jawabannya langsung diberikannya yaitu “oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Menurut tulisan Paulus, tidak ada alasan untuk tidak menuruti hukum dan perintah Tuhan, karena Tuhan akan menyanggupkan kita melakukannya. Dengan niat dan doa, Tuhan akan memampukan kita sanggup melakukan semua kehendak, hukum dan perintahNya. Jika kita khilaf dan tersandung, kita boleh minta ampun, tetapi kita harus berusaha dengan niat yang teguh dan perjuangan yang ulet.

Sekarang sampailah kita kepada bagian yang penting, yaitu  rumus yang diberikan Paulus bagaimana supaya  KITA BISA MENIKMATI HIDUP [KEKAL]:

Rom 8:8

Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”

Rom 8:13  

“Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; “

Apa definisi “hidup dalam daging”?  Di Rom. 7:26 Paulus berkata,  bahwa “tubuh insani” atau “hidup dalam daging” itu adalah “melayani hukum dosa” atau cenderung berbuat dosa.

Apa definisi dosa? 1 Yoh. 3:4 mengatakan “dosa adalah pelanggaran hukum.”

Maka, “hidup dalam daging” adalah cenderung melakukan pelanggaran hukum.

Apa yang terjadi bila kita hidup dalam daging [ = suka melakukan pelanggaran hukum = cenderung berbuat dosa]? Kata Paulus “kamu akan mati;” dan  “tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  Ini sangat cocok dengan tulisannya di Rom. 6:23 yaitu “Sebab upah dosa ialah maut.”

Rom. 8:13 (bagian kedua)

“tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”

Maka ayat di atas sangat jelas pesannya, yaitu:

Apabila dengan bimbingan Roh Kudus, kita mematikan [= menghentikan = menyetop] perbuatan tubuh yang cenderung melanggar hukum Allah, kita akan hidup.

Jadi apa yang dikatakan Paulus? Apa kita tidak usah melakukan Hukum Allah?

T I D A K ! !

Justru KITA HARUS BERHENTI BERBUAT DOSA = BERHENTI MELANGGAR HUKUM ALLAHJIKA KITA MAU HIDUP [KEKAL].

Rom. 8:7

“Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.”

Bagaimana kita bisa berhenti berbuat dosa padahal Paulus sudah berkata bahwa daging kita cenderung kepada dosa?

Jawabannya adalah  “OLEH ROH”!

Rom. 8:9

“Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”

Kalimat ini bisa lebih mudah dimengerti jika susunannya dibalik:

“Jika memang Roh Allah diam di dalam kamu, kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh. Tetapi orang yang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”

Jadi supaya kita  bisa tidak hidup dalam daging [= tidak berbuat dosa/melanggar hukum Allah], kita harus memiliki Roh Kristus.

Paulus melanjutkan penjelasannya:

“orang yang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”

Dengan kata lain seluruh kesimpulan ajaran Paulus mengenai topik ini  adalah:

1.    Orang yang adalah milik Kristus, dia HARUS MEMILIKI ROH KRISTUS.

2.    Orang yang memilki Roh Kristus, DIA TIDAK HIDUP DALAM DAGING = DIA TIDAK MELANGGAR HUKUM ALLAH/TIDAK BERBUAT DOSA.

3.    Orang ini akan hidup [kekal].

Sebaliknya:

4.    Orang yang hidup dalam daging = orang yang berbuat dosa/melanggar hukum Allah, dia akan mati [kekal]

JADI, APAKAH HUKUM ALLAH ITU PERLU DIPATUHI?

YA, KALAU KITA TIDAK INGIN MATI KEKAL.

Jelas di sini, baik Yesus maupun Paulus tidak pernah berkata bahwa Hukum Tuhan itu dihapus dan tidak berlaku lagi!

Seluruh isi Alkitab itu sinkron. Dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, tidak ada yang bertentangan karena penggagasnya sama, yaitu TUHAN. Tidak mungkin di Perjanjian Lama Tuhan menyuruh umatNya tunduk pada hukumNya, lalu di Perjanjian Baru, rasul-rasul menulis bahwa hukum Tuhan sudah tidak berlaku. Jika kita berpikir demikian, pikiran kitalah yang salah.

2 Tim. 3:16

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

13. APA YANG DIJANJIKAN TUHAN KEPADA MEREKA YANG MENURUTI HUKUMNYA?

Yoh. 8:51

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.”

Mat. 7:21

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Wah. 22:14 

“Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. [terjemahan NKJV: “Blessed are those who do His commandments” = Berbahagialah mereka yang melakukan perintah-perintahNya] Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.”

Bil 15:30-31

Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya,  sebab ia telah memandang hina terhadap firman דּבר  [dâbâr – daw-bawr’TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *